Dalam dunia penangkaran burung tekukur, burung puter ternyata memiliki peran yang cukup istimewa. Selain dikenal karena suaranya yang khas dan sifatnya yang relatif jinak, burung puter juga dapat dimanfaatkan sebagai babuan atau induk asuh untuk mengerami telur dan merawat anakan tekukur.

Bagi penghobi dan peternak tekukur, penggunaan burung puter sebagai babuan merupakan salah satu cara untuk membantu proses perkembangbiakan, terutama ketika indukan tekukur kurang rajin mengerami telur atau belum mampu merawat anaknya dengan baik.

Pengalaman melihat seekor puter mengasuh anakan tekukur memberikan kesan tersendiri. Meskipun berbeda jenis, burung puter ternyata dapat menunjukkan naluri pengasuhan yang baik terhadap anakan yang diasuhnya.

Apa Itu Babuan dalam Penangkaran Tekukur?

Istilah babuan biasa digunakan oleh sebagian penghobi burung untuk menyebut indukan pengasuh yang bertugas mengerami telur, menetaskan, dan membesarkan anakan dari pasangan burung lain.

Dalam hal ini, burung puter dijadikan sebagai induk pengganti bagi burung tekukur.

Cara ini memanfaatkan naluri alami burung puter yang sedang berada dalam masa berkembang biak. Apabila proses pemindahan telur dilakukan pada waktu yang tepat, burung puter berpeluang menerima telur tekukur sebagai telurnya sendiri.

Setelah telur menetas, puter juga dapat menyuapi dan menghangatkan anakan tekukur sampai cukup besar untuk mulai belajar makan sendiri.

Mengapa Burung Puter Cocok Dijadikan Babuan?

1. Memiliki Naluri Mengeram dan Mengasuh

Burung puter yang sudah berpengalaman berkembang biak umumnya memiliki naluri mengerami telur dan mengasuh anak yang baik.

Puter yang sedang aktif mengeram dapat menerima telur pengganti, meskipun keberhasilannya tetap bergantung pada karakter dan kondisi masing-masing pasangan.

2. Mampu Menyuapi Anakan

Seperti burung merpati dan kelompok burung dara lainnya, burung puter menghasilkan cairan makanan dari tembolok yang dikenal sebagai crop milk atau susu tembolok.

Makanan inilah yang diberikan kepada anakan pada masa awal setelah menetas.

Karena tekukur dan puter termasuk kelompok burung yang berkerabat dekat, mekanisme pemberian makan kepada anakannya memiliki banyak kesamaan.

3. Relatif Mudah Dipelihara

Burung puter umumnya mudah beradaptasi dengan lingkungan penangkaran apabila kebutuhan pakan, air, kebersihan, dan ketenangannya terpenuhi.

4. Membantu Produktivitas Penangkaran

Penggunaan babuan dapat membantu peternak menyelamatkan telur atau anakan tekukur yang berisiko terlantar.

Selain itu, ketika telur tekukur diasuh oleh puter, pasangan tekukur dapat kembali menjalani siklus reproduksi secara alami. Namun, indukan tetap harus diberikan waktu istirahat yang cukup agar kesehatannya terjaga.

Cara Menggunakan Burung Puter sebagai Babuan Tekukur

Agar proses pengasuhan berhasil, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Pilih Pasangan Puter yang Berpengalaman

Pilih pasangan puter yang sudah terbukti mampu mengeram dan merawat anak. Pasangan yang sudah pernah berhasil membesarkan anak biasanya lebih mudah dinilai kesiapan dan perilakunya.

2. Sesuaikan Waktu Pengeraman

Telur tekukur sebaiknya dipindahkan ketika burung puter sedang mengerami telurnya sendiri dan memiliki jadwal penetasan yang mendekati telur tekukur.

Perbedaan waktu yang terlalu jauh dapat menyebabkan puter meninggalkan telur atau belum siap memberikan makanan ketika anakan menetas.

3. Pindahkan Telur dengan Hati-hati

Pemindahan sebaiknya dilakukan tanpa mengguncang telur dan tanpa terlalu sering mengganggu sarang.

Pastikan telur tidak retak dan induk puter kembali mengeram setelah proses pemindahan.

4. Perhatikan Anakan Setelah Menetas

Pastikan puter mau menghangatkan dan menyuapi anakan tekukur. Periksa kondisi tembolok, aktivitas anakan, dan perkembangan berat badannya.

Apabila anakan terlihat lemah, tembolok terus kosong, atau induk tidak memberikan makan, segera lakukan evaluasi dan minta bantuan peternak berpengalaman atau dokter hewan yang memahami burung.

Pengalaman Menarik: Puter Mengasuh Dua Anakan Tekukur

Pada foto yang menyertai tulisan ini, terlihat seekor burung puter sedang berada di sarangnya bersama dua anakan tekukur.

Kedua anakan tampak berlindung di bawah tubuh induk asuhnya. Bulu-bulu jarum pada tubuh mereka mulai tumbuh, menandakan bahwa keduanya sedang berada dalam tahap perkembangan.

Pemandangan ini menjadi contoh menarik bagaimana burung dari jenis berbeda dapat menjalankan peran sebagai induk pengasuh.

Melihat dua anakan tekukur tumbuh dalam pengasuhan seekor puter merupakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi penghobi burung.

Namun, keberhasilan pengasuhan tetap harus dinilai dari kondisi anakan, kecukupan makanan, dan perkembangan kesehatannya, bukan hanya dari kesediaan induk untuk menaungi anak.

Hal yang Perlu Diwaspadai

Walaupun penggunaan burung puter sebagai babuan memiliki manfaat, ada beberapa risiko yang tidak boleh diabaikan.

  • Induk menolak telur atau anakan. Tidak semua pasangan puter dapat menerima telur maupun anakan tekukur.
  • Waktu penetasan tidak sesuai. Perbedaan masa pengeraman dapat mengganggu kesiapan induk dalam memberi makan.
  • Anakan kekurangan makanan. Pengasuhan harus dipantau, terutama pada hari-hari pertama setelah menetas.
  • Penularan penyakit. Kebersihan sarang, kondisi kesehatan induk, dan pencegahan parasit harus diperhatikan.
  • Induk terlalu sering digunakan. Burung puter tetap membutuhkan masa pemulihan dan tidak boleh dipaksa terus-menerus mengeram serta membesarkan anakan.

Kesimpulan

Memanfaatkan burung puter sebagai babuan tekukur merupakan salah satu teknik yang menarik dalam dunia penangkaran.

Dengan pemilihan induk asuh yang tepat, penyesuaian waktu pengeraman, serta pemantauan perkembangan anakan, burung puter dapat membantu menetaskan dan membesarkan anakan tekukur.

Yang terpenting, penggunaan babuan bukan sekadar mengejar jumlah anakan yang dihasilkan, melainkan memastikan setiap anakan mendapatkan pengasuhan yang baik dan tumbuh sehat.

Bagi saya, salah satu kepuasan dalam beternak burung bukan hanya ketika telur berhasil menetas, tetapi juga ketika melihat anakan tumbuh sehat hingga akhirnya mampu hidup mandiri.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Pernahkah menggunakan burung puter sebagai babuan untuk tekukur? Silakan berbagi pengalaman agar sesama penghobi dapat saling belajar.